Rehat sejenak setelah lelah berkeliling kota bandung pada malam di awal bulan Februari. Bersama kawan karibku, kita berdua puas menjelajahi kota dengan julukan Paris van java ini. Fenomena malam di berbagai sudut kota metropolitan ini menyajikan suasana yang berbeda-beda, membuat kami berdua bersemangat untuk menyisir bagian-bagian kota. Malam minggu di kota ini begitu hidup dan bergairah, seolah energinya tak habis setelah lelah seharian disinari matari yang panas. Mungkin energi ini bersumber dari energi jiwa muda yang tak ingin diam dan selalu dinamis untuk bergerak. Karena memang malam ini mayoritas di penuhi oleh kalangan muda mudi yang asik direguk manisnya cinta antar lawan jenis. Bercerita tentang kota Bandung memang tak ada habisnya.
Diawali dengan melintasi jalanan yang agak basah setelah jatinangor sorenya diguyur hujan. Jalanan menjadi licin memang, tapi kita mesti cepat-cepat sampai agar dapat menikmati lebih banyak waktu di tengah kota. Butuh usaha keras memang untuk dapat mencapai sang kota kembang, jalanan licin ditambah macetnya jalan akibat banyak juga yang ingin berkunjung ke sana. Maklumlah, sekarang bandung menjadi salah satu tujuan wisata ketika akhir pekan. Di jalan Soekarno-Hatta kami mengambil jaur cepat, tentunya dengan segala resiko yang membayangi kami. Akhirnya kita berhasil tiba di pusat kota. Dimulai dari alun-alun kota bandung kami mulai berjalan agak lambat sembari menikmati sajian malam di kota ini.
Alun-alun memang menjadi pusat kota-kota yang ada di Indonesia. Ramainya alun-alun bandung membangkitkan ingatan kecilku ketika dahulu diriku sering berkunjung ke sini bersama ayahandaku tercinta. Keramaian yang sekarang menurutku jauh dari keramaian ketika aku kecil dulu. Bangunan-bangunan tua sekitar alun-alun kini seolah mati tak berpenghuni. Padahal ketika dulu, bangunan itu menjadi pusat perbelanjaan. Banyak toko-toko pakaian maupun sepatu berjejer mengisi riuhnya pusat kota itu. Banyak pelancong termasuk diriku ketika itu sengaja berkunjung ke tempat itu untuk hanya sekedar berbelanja. Ya tapi apa boleh dikata, kondisi itu kini tak sama dengan sekarang. Kini banyak toko-toko yang dulu kusinggahi sudah tutup dan di gantikan dengan kesunyian sudut kota.
Selepas dari alun-alun kota, kami sempat mengalamai kendala. Dikarenakan jalur yang ada kebanyakan menggunakan satu arah, kami sempat berputar-putar beberapa kali. It’s ok lah, yang penting kami menikmati perjalanan ini. Setelah kami stabil dan mulai mengenal jalan, kami lanjutkan menuju daerah sekitar Dago. Untuk menuju tempat itu kami perlu melewati jembatan Surapati. Wah, ternyata di pinggiran jembatan itu berjejer banyak pasangan dimabuk cinta. Kawanku yang baik hati itu mengajukan usul bagaimana kalau berhenti sejenak sambil merasakan atmosfer cinta lawan jenis yang sedang kuat-kuatnya. Mantap juga ide kawanku itu. Ternyata pinggir jembatan itu masih menyediakan tempat kosong untuk kami berdua. Akhirnya kita berhenti di situ, awalnya saya agak malu. Masak kita berdua sendiri yang gendernya sama. Barangkali saja mungkin ada yang mengira kita homoseks. Ah, masa bodo dengan perasaan itu. Bebincang masalah pacaran , kami tertawa lepas. Ngobrol dengan bahasa ibu tetapi bukan di tempat ibu kita berasal memang menyenangkan. Kita bisa bebas menyindir orang yang disamping kita, bahkan kadang-kadang mengejek secara gamblang. Tapi ya tetap aman-aman saja karena orang lain tak mengerti apa yang kita perbicangkan. Sempat membincangkan soal pacaran, kita mengomentari pasangan-pasangan yang asik memandangi lampu-lampu di bawah jembatan cikapayang, ya mungkin sambil melakukan hal yang biasa orang sekarang kalau sedang pacaran. Macam-macam pola yang dilakukan, duduk berdua di motor sambil mendekatkan wajah dan cup. Ataupun salah astu pasangannya berdiri sedangkan yang satunya agi memegang sesuatu, entah apa yang mereka mainkan yang jelas sekitaran selangkangan lah atau dada si wanita jadi sasarannya. Hahaha, kita tertawa ketika mengakumulasikan semua tingkah itu. Ternyata kawanku itu melotot melihat salah satu spot, ku berkata padanyaa : “hey, lagi liat apa lo to? Ahh, ternyata.. si leto ngiler, hahahaha… tenang to jangan ngiler gitu, kita cari kembang bandung aja di tempat lain. Disini kembangnya sudah dihinggapi lebah. Hahahaha… ” Sempat diriku bertanya-tanya, mengapa mereka asik pacaran di pinggir jalan seperti ini? Padahal banyak tempat asik di bandung untuk pacaran. Ternyata, pikiran su’udzonku langsung menjawabnya. Simple aja, mereka yang ada di sini kebanyakan kayaknya lagi boke jadi ya ketimbang ga keluar rumah sama sekali mending pacaran di pinggir jalan seperti ini. Hahahahaha.. . tenang kawan, kalian pasti suatu saat nanti bakal mendapatkan tempat yang layak untuk pacaran, yang tidak ada orang yang bisa mengganggu seperti setan pengganggu yang ini.
Yah, kembali lagi ke alur perjalanan. singkat waktu kami telah tiba di sekitaran dago. Ternyata di sini jauh lebih ramai ketimbang tempat yang tadi. Mulai dari dago 4 hingga simpang dago kami menyusurinya. Sepanjang jalan itu ramai sekali, terutama di penuhi oleh tempat-tempat hiburan. Bandung memenag tempatnya hiburan, segala hiburan ada di sini, terutama hiburan modern seperti mal-mal ataupun diskotik. Disamping tempat hiburan, jalan Ir. H. Juanda juga dipenuhi pengamen dadakan yang jumlahnya tidak sedikit. Memang biasanya jikalau hari minggu banyak kelompok anak muda yang sengaja untuk mengamen bareng-bareng, ya entah keperluan mereka apa sampai-sampai mengamen secara bergerombol. Tak disangka kupingku diam-diam mendengarkan dendang mereka. Kata mereka “mobilnya bagus, mobilnya bagus, mobilnya bagus…. Begitu seterusnya sampai tuannya mobil yang disebutkan itu memberikan uang.” “Yah, kalau mereka bilang motor kita bagus juga kita kasih uang juga”, teriak kawanku dari belakang. Hahahahhaaa, ternyata dia mendengar juga. “iya to, kalau mereka ngomong gitu bakal kita kasih. Sayang mungkin mereka kurang rejeki aja, jadi ga bisa deh gua ngasih duitnya.” Ya memang begitulah kita berdua, jika menanggapi sesuatu hal pasti tidak jauh beda pendapat.
Tiba-tiba kawanku bertanya. “Fam, kok kenapa banyak mobil yang plat-nomernya B sih?“ lalu “ya sekarang kan bandung jadi sasaran tembak kedua to buat orang Jakarta kalau liburan setelah puncak.” Kalau akhir pekan ceuk orang Bandung mah, orang Jakarta kalau hari sabtu-minggu kerjaannya nyampah aja di sini. Jalanan sekitar Dago-Tihampelas-Tamansari-Setia Budi-Lembang memang selalu macet di akhir pekan. Dan yang menyebabkannya adalah jalanan yang tak mampu lagi menampung kapasitas jumlah mobil, yang kebanyakan mobil itu berasal dari luar kota.
Karet ban terus menggelinding, mengantarkan kami pada kampus tercinta Unpad, keadaanya sepi dan hanya ada sedikit orang termasuk pak satpam “si penjaga yang selalu setia” serta pengurus taman yang dengan tekun merawat rumput-rumput taman bak merawat anak sendiri. Di depan kampus ada sebuah monumen, serta taman yang membentang hingga gedung Sate, lengkap dengan jalan taman yang lebar. Ternyata eh ternyata, jalanan itu digunaka oleh teman-teman yang suka memacu kecepatan. Ya bisa dikataka balapan lah, alias balapan liar yang biasa anak-anak gaul mengatakannya dengan istilah bali. Knalpot bising setelan ala mesin jet, asap yang keluar dari ruang pembakaran, ban tipis setipis celah antara hidup dan mati di arena balap. Itulah intrumen dari dunia seperti ini yang menjadi hal fardu bagi mereka. “Masa muda masa yang berapi-api” tukas bang Rhoma, sesuai dengan keadaan malam itu. Gelora adrenalin mengantarkan merka dengan tantanan ini. Entah apa tujuan mereka, yang jelas aku dan kawan ku pun hanya menjadi penikmat saja.
Sebenarnya kalau diperhatikan baik-baik, ini drag race seperti ngantri BLT di kantor pos. Untuk bisa ikut balapan gampang saja, tinggal ngantri sampai dapat giliran. Apapun motornya, mau motor standar ataupun motor setelan balap bisa ikutan. Tak seperti yang sering aku saksikan di kota kelahiranku, balap seperti ini ya serius sangat. Sampai-sampai taruhan beberapa rupiah sampai motorpun dipertaruhkan. Motor yang turun ke arena pun bukan motor sembarangan. Mungkin temen-temen Bandung hanya cari senang aja kali yah.
Di pemberhentian terakhir kami singgah di gedung Merdeka di jalan Asia-Afrika. Ya, jalan bersejarah ini begitu terkenal di dunia, dan gedung Merdeka pun menjadi tempat harapan bagi Negara-negara di benua Asia dan Afrika yang kala itu belum lepas dari penjajahan. Kini tempat itu hanya sekedar menjadi memori kegemilangan bangsa ini dalam hal politik luar negrinya yang bebas aktif.
Di situ banyak terdapat manusia-manusia yang “terjebak masa lalu”, setelan mereka persis seperti orang-orang pada masa kemerdekaan silam. Entah dari mana aksesori kuno itu mereka dapatkan. Mulai dari pakaian, sepeda onthel, bahkan motor jaman perang dunia ke II pun ada di situ. Daerah ini memang menjadi spot bagi mereka yang suka dengan gaya masa lalu dan ingin tetap terjebak di dalamnya. Sedangkan di sudut lain ada muda mudi yang asik berfoto ria, mereka pun ikut berfoto bareng dengan kumpulan retro tadi. Latar nya memang cukup menarik untuk mengambil foto, mungkin karena tempat ini merupakan salah satu landscape kebanggan kota Bandung. Dan kami berdua hanay melongo melihat lenggak-lenggok ketika mereka berpose. Ya, nikmat juga lah melihat model wanitanya.
Memandangi lampu jalan yang kedap-keidp sedari tadi, mata saya agak terganngu olehnya. Mata yang nakal ini mulai memperlebar pandangannya, terus ke bawah dan dalam menusuk ke belakang tiang lampu jalan. Ternyata mataku menemukan seseorang meringkuk kedinginan. Dan memandangi spot tersebut, semakin melebar dan melebar ke pinggir orang tadi. Sungguh tak disangka, ada lebih dari sepuluh orang yang tiddur di bangunan seberang gedung Merdeka. Mereka tak punya rumah untuk mereka tiduri, mungkin juga mereka tak ber-mata pencaharian, hidup menggelandang. Tetapi mengamati sebagian dari mereka yang belum terlelap tidur. Ternyata mereka masih bisa tersenym juga, ada beberapa orang yang kelihatannya bukan bagian dari mereka ikut nimbrung dengan mereka. Orang itu kelihatannya sedang menceritakan sesuatu pada mereka, entah apa yang diceritakannya. Tapi yang jelas setelah ada jeda cerita, para gelandangan itu tertawa lepas. Sungguh terharu melihatnya, berbaring beralaskan lantai bangunan dan berselimutkan sarung yang lusuh, tapi mereka tetap bisa tertawa lepas. Nikmat sekali ku menghayatinya. Entah mengapa, diriku terlalu peka merasakan hal-hal seperti itu. Melihat orang yang kurang beruntung dan malang karena tergilas kejamnya sistem yang menindas ini. Setelah itu pikiranku melayang jauh. Mengabstraksi kemungkinan-kemungkinan. Mengkaji sejarah dan berusaha menyatukan fakta di depan mata dengan awangan pikiranku itu. Pikiranku mengajukan pertanyaan entah pada siapa. Berbunyi : apa yang akan tejadi jika orang-orang dulu yang mengisi konferensi Asia-Afrika di dalam gedung Merdeka ini dengan penuh semangat merdeka melihat orang-orang malang ini? Dan apa yang akan dilakukan oleh petinggi Negara waktu itu jika menyaksikan hal ini? Ironi tak terperi tentunya, daerah yang dulu memberi harapan bagi seluruh bangsa-bangsa di dua benua ini. Kini menjadi salah satu tempat menampung orang-orang malang korban penindasan manusia terhadap manusia. Semangat libertarian tahun 1955 kala itu tak berbekas sama sekali untuk saat ini. Menangis! Menangislah kalian yang yang dengan susah payah menggalang kekuatan untuk memerdekakan bangsa-bangsa di benua kalian. Dan ternyata kebebasan itu hanya impian saja. Penindasan akan tetap abadi, biarpun tejadi di pelataran tempat berlangsungnya konferensi yang bertujuan untuk membebaskan diri atas penindasan. SELAMAT TINGGAL KEBEBASAN.

1 komentar:
Mi, pake page rank deh...
Posting Komentar