Bisingnya suara adzan maghrib di sekitaran rumah menemani diriku yang hancur ini. Aku lelah dan sedih, berkali-kali aku lari dari kenyataan. Ingin rasanya lepas dari semua kepenatan duniawi dan menemukan dunia baru yang dijanjikan itu. Tetapi entah mengapa, tetap saja ada suatu hal yang mampu membawaku untuk kembali. Semangatku, ya itulah yang membawaku dari pelarian untuk kembali ke tanggung jawabku. Semangat yang muncul karena melihat kerutan dahi kedua orang tuaku, semangat yang bangkit karena omelan cerewet ibuku, semangat yang ada karena kelaparan saat diri ini kekurangan, semangat menjemputku ketika melihat derita kemanusiaan dan tangis kemiskinan.
Semangat itu bergelora bagai api di musim kering. Melambungkan impian dan seolah me-real-kan utopia dalam otak. Namun mengapa semangat hanya mamapu untuk menjemputku saja? Dia tak mampu untuk menjaga nyala apinya ketika ku berusaha dengan keras untuk menyelesaikan semua tanggung jawabku. Sialnya ini terjadi berulang kali, dan aku belum bias mencari bahan bakar bagi nyalanya. Mengapa ini terus-menerus terjadi?
Leia Mais…
