Selasa, 06 April 2010

CATATAN 4 APRIL

Bisingnya suara adzan maghrib di sekitaran rumah menemani diriku yang hancur ini. Aku lelah dan sedih, berkali-kali aku lari dari kenyataan. Ingin rasanya lepas dari semua kepenatan duniawi dan menemukan dunia baru yang dijanjikan itu. Tetapi entah mengapa, tetap saja ada suatu hal yang mampu membawaku untuk kembali. Semangatku, ya itulah yang membawaku dari pelarian untuk kembali ke tanggung jawabku. Semangat yang muncul karena melihat kerutan dahi kedua orang tuaku, semangat yang bangkit karena omelan cerewet ibuku, semangat yang ada karena kelaparan saat diri ini kekurangan, semangat menjemputku ketika melihat derita kemanusiaan dan tangis kemiskinan.

Semangat itu bergelora bagai api di musim kering. Melambungkan impian dan seolah me-real-kan utopia dalam otak. Namun mengapa semangat hanya mamapu untuk menjemputku saja? Dia tak mampu untuk menjaga nyala apinya ketika ku berusaha dengan keras untuk menyelesaikan semua tanggung jawabku. Sialnya ini terjadi berulang kali, dan aku belum bias mencari bahan bakar bagi nyalanya. Mengapa ini terus-menerus terjadi? Apakah memang semangatku ini dirasa kurang? Atau memang tak ada konsistensi dari diriku? Ohhh… tak semudah itu menjawabnya kawan.

Adakah yang mampu menolongku? Dan adakah yang rela untuk memberi bahan bakar bagi nyala api semangatku? Tolong cambuk aku wahai pengasaku, jikalau memang tidak ada jalan lain. Cambuk sekeras-kerasnya agar tubuh yang malas ini bergerak. Itulah do’aku yang selalu kuucapkan ketika keadaanku seperti ini.

Aku yang begitu relatif iniselalu mecoba untuk menjadi sesuatu yang relatif ekskalatif. Bukan menjadi relatif stagnan, atau bukan pula kaku dan keras bahkan sangat-sangat konservatif. Stagnasi dalam beberapa bulan belakangan ini memang sungguh menyedihkan. Imbasnya bukan hanya pada diriku pribadi. Tapi juga orang-orang sekelilingku yang aku cintai. Efek domino dari hal ini sungguh sangat menyedihkan. Evaluasi memang sebuah kemutlakan dalam sebuah proses yang dinamis. Evaluasi hanya mampu member gambaran tentang sesuatu. Evaluasi hanya mampu sampai di situ, bukan untuk menggerakan apalagi menjadi sebuah motivasi.

Kawan-sebutanku untuk orang yang kusayangi dan kucintai-, kaulah spiritku. Janganlah kau tinggalkan diriku sendiri dalam menghadapi semuanya. Karena kawan, aku akan sangat menghargai orang yang menghargaiku dan aku akan sangat mencintai orang yang mencintaiku. Namun aku akan berusaha untuk menghargai dan mencintai orang yang benci padaku.


“senapan tak akan garang sama sekali tanpa adanya peluru, dan seorang insan tak akan besar tanpa adanya kawan yang setia di sekelilingnya.”

(F. Syarifuddin; 4 April 2010)

0 komentar:

Posting Komentar