Selasa, 13 Juli 2010

Ikut SMUP (bag I)

Ini cerita berlangsung sekitaran dua tahun yang lalu, tepatnya saya lupa kapan. tapi yang jelas ingtanku masih terasa ketara mengingat peristiwa ini. 
Cerita ini berawal karena angan kawanku untuk masuk ke Universitas Padjadjaran. Ali Caslim namanya. Setelah ujian nasional sudah kami lalui, kami sibuk mencari tempat mana yang patut kami singgahi untuk dapat berproses dengan baik. Salah seorang kawanku sangat terobsesi dan bermimpi untuk bisa kuliah di kota Bandung, Universitas Padjadjaran tepatnya. Ia mendadak menjadi informan bagi ambisinya tersebut, segala info tentang pintu-pintu masuk ke Universitas tersebut dia dapatkan, mulai dari pintu bagian depan hingga pintu bagian belakang. Dan akhirnya di menemukan pintu yang paling tepat untuknya, Seleksi Ujian Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP). Awalnya dia tidak mengajakku untuk ikut dalam ujian tersebut, tapi setelah temannya mengurungkan niat untuk mengikuti SMUP dan menjaul form-nya ke orang lain. Ia mencari bala bantuan untuk menemaninya mengikuti test tersebut, beberapa kawan lain dan termasuk aku dibujuk dan dirayunya. Disodorkan impian-impian, nama besar Universitas Padjajdaran, bahkan ia berbicara soal gadis kota kembang yang katanya sedap untuk dipandang apalagi untuk dicumbu. Siapa tak tertarik dengan janji retoris si Ali Caslim, tapi sayang, kawanku rata-rata tak mampu untuk sekedar membeli formulinya saja. Banyak yang menolak ajakan Ali. Lalu dia menghampiriku dan bercerita tentang kota Bandung dan suasana kuliah di Bandung. 
Ia datang dan  berkata: “Mbul-panggilanku ketika SMP dan SMA(Timbul tepatnya)- kamu setelah lulus ingin melanjutkan kemana?”

“Ke Jogja, UGM.” balasku.
“Alah, kuliah di Bandung aja yuk, enak banyak cewek cantik dan banyak tempat asik di sana.” Ia langsung menimpali.
“Wah… Li, kuliah bukan soal cewek cantik atau tempat bagus, tapi kuliah itu soal kualitas kampus Li.” kataku.
Ali menjawab: “Memang sih, tapi kan di Bandung banyak perguruan tinggi yang bagus. ITB, Unpad.”
Lalu tanpa basa basi Ali langsung menawariku untuk ikut ujian SMUP. “Mbul, ikutan SMUP yuk, itung-itung nambah kesempatan aja barangkali nanti kamu tidak keterima di UGM-nya.”
“Hahaha, aku tau maksudmu Li, kamu lagi cari teman buat ujian SMUP kan? karena si Chandra tadak jadi ikut dan kamu sekarang tinggal sendiri tanpa teman, iya kan?” skak-mat.
Dia nyengir, dan mengiyakan. 
“ok Li, aku tanya dulu orang tuaku, mereka setuju atau tidak. Besok aku kasih kabar.” Kataku.
Sebenarnya bukan alasan sebenarnya bahwa aku ingin bilang ke orang tuaku dulu. tapi aku hanya ingn memberi kesempatan bagi otakku untuk mempertimbangkan tawarannya. kebetulan uang saku bulan lalu masih ada sisa. jadi tak perlu lagi membuat-buat alasan untuk morotin duit orang tua.Dan hanya butuh waktu satu jam aku memutuskan bahwa aku ingin mengikuti ujian tersebut. motivasiku bukan untuk masuk ke unpad, tapi ingin mencoba jalan jalan ke bandung. ITB terutama (hehehe).
Lalu langsung ku ketik tombol-tombol di hapeku dan3kukirim pemberitahuan lewat SMS ke Ali. isinya “ok li aku ikut SMUP, besok kita tancap ke BNI di kota lama deket pelabuhan. buat memebeli form-nya.”
tak lama kemudian, titititit-eits, jangan berpikir lain ya, itu suara hape saya yang dulu-sms dari kawan Ali kuterima. isinya “ok Mbul,besok saya ngajak aryo untuktemenin kita.”
Jam tiga sore kita mulai menyusur kota lama di Cirebon. Walaupun sudah hafal medan, tapi agak kesulitan menemukan Bank BNI di situ.
Selang setengah jam kita berputar-putar, akhirnya kita menemukan tempatnya. masuklah aku ke dalamnya. wuw, ternyata petugas tellernya masih muda dan cantik. Makin lama lah aku berbasa-basi di depannya, pura-pura seperti anak TK yang oon dan tidak tau apa-apa aku banyak bertanya tentang Bank dan SMUP. Tapi meski begitu tetap aku masih dalam koridor pembicaraan, tidak ngawur kemana-mana.
Ku gondol keluar form SMUP setelah aku membayari itu. kubuka buka dan kucermati lagi. waw!! gila, biayanya mahal. wah wah, masa ingin jadi sarjana saja minimal harus punya 15 juta. aduh… mau bilang apa ke orang tuaku. ahh, biar saja ku bawa dan kujelaskan ke mereka bahwa ini hanya latihan untuk ujian SNMPTN saja. dengan lobi handal tentunya, agar tak bising telingaku menanggapi omelan cerewet orang tuaku.

0 komentar:

Posting Komentar