Mengikuti SMUP bagiku tak terlalu penting, aku hanya berleha-leha dan santai menghadapinya. karena kau yakin kalau ujian macam ini tak butuh banyak berpikir dan memeras otak. Yang ada di presepsiku adalah ujian ini hanya menitik beratkan pada uang masuk kuliah dan laku atau tidaknya sebuah program studi.
Selang beberapa hari setelah pembelian formulir pendaftaran SMUP aku hanya disibukkan oleh persyaratan ini-itu yang memang cukup merepotkan bagi orang malas sepertiku. tiga hari aku bolak-balik ke TU sekolah untuk mengurusi surat keterangan lulus dan copy raporku dari kelas satu sampai tiga. Aku selalu jengkel ketika mesti behadapan dengan birokrasi berbelit bagai benang kusut yang tercemplung ke dalam lubang toilet. Tapi tak apa, aku memanfaatkan Ali untuk sekedar mengurusi semua urusan biraokrasi di sekolah. maklum, dia memang dekat dengan beberapa staf TU, terutama yang namanya mas Sawiyah -kalau kata bahasa jawa, Sawiyah itu adalah sebutan bagi anak cicak. hahaha...- selain persyaratan yang berhubungan dengan sekolah, aku pun harus ke kantor polisi dan rumah sakit untuk mengurus surat keterangan berkelakuan baik dan surat keterangan sehat dan bebas dari buta warna. Maklum, karena pihak Universitas menginginkan calon mahasiswanya berkelakukan baik dan tidak pernah terlibat kasus kriminal. Serta program studi yang ku pilih menuntut agar aku bebas dari buta warna. ya, program studi yang kupilih adalah FISIKA!
