Mengikuti SMUP bagiku tak terlalu penting, aku hanya berleha-leha dan santai menghadapinya. karena kau yakin kalau ujian macam ini tak butuh banyak berpikir dan memeras otak. Yang ada di presepsiku adalah ujian ini hanya menitik beratkan pada uang masuk kuliah dan laku atau tidaknya sebuah program studi.
Selang beberapa hari setelah pembelian formulir pendaftaran SMUP aku hanya disibukkan oleh persyaratan ini-itu yang memang cukup merepotkan bagi orang malas sepertiku. tiga hari aku bolak-balik ke TU sekolah untuk mengurusi surat keterangan lulus dan copy raporku dari kelas satu sampai tiga. Aku selalu jengkel ketika mesti behadapan dengan birokrasi berbelit bagai benang kusut yang tercemplung ke dalam lubang toilet. Tapi tak apa, aku memanfaatkan Ali untuk sekedar mengurusi semua urusan biraokrasi di sekolah. maklum, dia memang dekat dengan beberapa staf TU, terutama yang namanya mas Sawiyah -kalau kata bahasa jawa, Sawiyah itu adalah sebutan bagi anak cicak. hahaha...- selain persyaratan yang berhubungan dengan sekolah, aku pun harus ke kantor polisi dan rumah sakit untuk mengurus surat keterangan berkelakuan baik dan surat keterangan sehat dan bebas dari buta warna. Maklum, karena pihak Universitas menginginkan calon mahasiswanya berkelakukan baik dan tidak pernah terlibat kasus kriminal. Serta program studi yang ku pilih menuntut agar aku bebas dari buta warna. ya, program studi yang kupilih adalah FISIKA!
Ada yang menarik ketika aku memilih program studi di Unpad. Awalanya kau bingung untuk memilih antara fisika, biologi dan kedokteran. Sebenarnya aku sangat menginginkan untuk bisa menjadi seorang dokter, karena aku mempunyai pengalaman yang mengenaskan ketika sering melihat orang tak mampu yang tak bisa berobat karena ketiadaan biaya. Termasuk tetanggaku sendiri, anak dari Bi Mami meninggal dunia karena terkena gizi buruk, dia terlambat di bawa ke rumah sakit karena orangtuanya enggan membawa anaknya yang sudah sakit selama lebih dari dua minggu tapi sialnya ketika di bawa ke rumah sakit pun tetanggaku mengalami diskriminasi karena keadaan keuangannya. ANJING! aku tak bisa menahan amarah ketika mendengar cerita sang ibu-tetanggaku- menceritakan kronologis peristiwa ini.hal itulah yang membuatku ingin sekali menjadi serang dokter GRATIS TANPA BAYARAN. Tapi akua terpaksa mengurungkan niatku ini karena kocek yang harus dirogoh oleh orangtuaku kira-kira sebesar 125 Juta rupiah. GILA, dapat uang dari mana. jual rumah pun belum tentu memenuhi itu.Akhirnya kau memalingkan perhatianku pada progam studi lain yaitu fisika dan biologi.
Aku sangat suka keduanya, karena sejak SMP aku menggemari kedua mata pelajaran itu. dan selain itu aku punya motivasi tersendiri ketika aku ingin memilih keduanya. motivasiku adalah untuk membuktikan tentang kebenaran Tuhan lewat sains. Ketika itu kau memang sedang asyik berbicara soal cinta terhadap Tuhan dan Indahnya hidup. Ketika itu aku adalah serang remaja yang sok untuk menanyakan eksistensi Tuhan. bertanya apakah Tuhan itu ada? Bagaimanakah Tuhan itu? Apakah Tuhan itu baik? dengan pemahaman yang dangkal soal teologi, aku dengan berani dan lancang untuk masuk ke dalam perbincangan filosofis antara aku, jiwaku, dan pikiranku. kesimpulanku saat itu adalah bahwa Tuhan itu baik dan akan selalu menemaniku setiap saat dimana pun dan kapan pun tak peduli seperti apa wujudnya Tuhan itu. Oleh karena itu aku berambisi untuk membuktikan eksistensi Tuhan lewat sains.
Ada yang menarik ketika aku menjatuhkan pilihanku pada FISIKA. Ketika itu kau sedang keranjingan untuk melihat langit malam yang indah karena bintang dan dewi malam. sembari melepas masalahku. Malam sunyi memang menenangkan, apalagi ketika langit di atap dunia begitu hitam namun cerah dan mampu menampakkan berjuta kelip bintang dan lingkaran putih nun bersih. Aku senang dengan itu, tapi akau hanya ingin menikmati ini sendiri tanpa bisa di ganggu oleh siapa pun juga. Kupilih tempat tersembuyi yaitu atap rumahku. kugeser bebrapa genteng hingga tubuhku bisa masuk ke dalam agar kau bisa mencapai permukaan atap rumah. kusandarkan tubuhku pada atap rumag yang miring, sengaja aku membawa bantal sebagia pengganjal leher dan kapalaku. Saat itu keadaanku sangat kacau, aku menginginkan sosok pendamping yang mampu menenangkanku, jawabanku langsung tertuju pada Tuhanku. Aku ceritakan semua keluh kesahku selama beberapa minggu setelah UN berakhir. kuceritakan kegelisahanku ketika dihadapkan pada dunia setelah lulus SMA. yaitu antara kuliah dan bekerja. ya wajar aku berfikiran seperti itu, karena Aku yang sebenarnya sangat ingin sekali kuliah dan dihadapkan pada kondisi keluargaku yang sederhana. Ayahku hanyalah guru oemar bakri yang setiap hari mengajar dengan berjalan kaki menuju sekolahnya, ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Maka yang terlintas dalam pikiranku adalah segera bekerja dan lepas dari tanggungan orang tua. Sulit memang menghadapi ini, tapi orangtuaku menegaskan bahwasanya aku harus tetap kuliah, bukan untuk bekerja. kata ibuku "tidak usah khawatir dengan biaya, rezeki pasti ada untuk itu. asal kau yakin dengan cita-citamu, Fahmi." kalimat itulah yang selalu aku ingat ketika menjelang tidur. Ohh, berat memang.
Dari perbincangan dengan kedua orangtuaku itu, aku lalu bercerita pada Tuhanku. dengan lancang aku mengajukan tuntutan dan sebuah perjanjian, "Ya Tuhan, jika kau adalah yang Maha adil. maka kabulkanlah dan mudahkanlah segala urusanku dan urusan kedua orangtuaku. jika kau sang pemberi rizky, maka berilah rizky yang bermanfaat bagiku dan kedua orang tuaku demi perjalananku dalam menuntut ilmu. aku hanya minta rizky yang cukup sesuai kebutuhanku, tak perlu berlebih. Tuhan,engkau tak akan merugi sedikit pun ketika memberiku rizky, toh niatku belajar di Universitas adalah untuk membuktikanmu dan mengajak orang lain agar mendalami betapa nikmatnya berkenalan dengan engkau." itulah tuntutanku, meski pun Tuhan tak memberi jawaban kepadaku, tapi aku anggap Tuhan sepakat dengan perjanjian itu. "aku hanya bermodal yakin!"
Setelah puas curhat dengan Tuhan, kini kau tinggal bebas menikmati langit malam. ketika itu tak rembulan tak sepenuhnya bulat., namun langit malam begtu indah dengan bertaburnya bintang-bintang. kuperhatikan salah satu bintang yang agak redup sinarnya. lalu kukira-kira berapa jarak dari bintang itu ke sini. berpaa tahun cahayakah? lalu aku ingat, setelah membaca buku "mengenal teori relativitas", terenyata bhawasanya mata kita menipu kita, sebenarnya bintakng yang kuperhatikan itu tidak ada. telah pindah entah kemana. yang kulihat hanyalah berkas cahanya yang terpancar entah berapa tahun yang lalu.Lalu aku kembali bertanya, kenapa engkau ciptakan indra hanya untuk menipuku wahai Tuhanku? Tuhan tak menjawab itu, lalu terpaksalah kujawab sendiri dengan pembenaran seadanya. Kau ciptakan indra adalah untuk merasakan dan manikmati indahnya dunia ini, tapi dengan ini engkau juga sebenarnya telah menipu seluruh umat manusia. aku berkesimpulan bahwa ketika indra itu ada untukmu dan sekaligus juga untuk menipumu. Di sisi lain kau diberi akal budi untuk berfikir, maka ini sebenarnya adalah sebuah bentuk kesatuan teka-teki alam raya. bagaimana seorang manusia dapat menyatukan pertentangan yang nyata ini menjadi sebuah bentuk kebujaksanaan demi terciptanya masyarakat yang bijak. "itulah guna akal budi, indra, jiwa, tubuh, alam, gunung, bintang, laut, dan semua kandungan semesta raya, yaitu unutk mengintegrasikan semua makna kehidupan demi sebuah nilai kebijaksaaan." oleh karena itulahj pilih ilmu FISIKA sebagai salah satu alat unutk mengintegrasikan semuanya ini.
setelah itu aku langsung turun dan tak perlu waktu lama untuk membulati bulatan kosong dengan pulasan hitam pensil 2B. dan langsung kubulati FISIKA sebagai pilihanku.

0 komentar:
Posting Komentar