Jumat, 05 Februari 2010

Saat Hujan

Bocah kecil menikmati tetes hujan hanya seorang diri. Suara hujan memanggil-manggilnya, spontan dia langsung menyambut undangan tersebut. Dengan mempersiapkan pakaiannya untuk siap dibasahi olah tetesan hujan. Dia lari kedepan rumah, memparhatikan laju aliran air yang seolah menjadi sungai dadakan di kala hujan. Mencari benda yang mau mengapung, mengumpulkannya, dan untuk bersama di lepas ke aliran air itu. Dia tersenyum melihat rivalitas semu dari benda yang berhasil dihanyutkannya.
"ayo...
ayo...
terus salip daun yang kuning itu.!"
teriak bocah kecil itu.
Dia terus mengikuti benda-benda itu dari belakang, sambil merapikan benda yang terpinggirkan dari aliran air. Dan lalu mengulanginya beberapa kali hingga bocah kecil itu merasa bosan. Jenuh mulai dideritanya, dan dia pun mencari kesenangan lain di tengah gempuran tetes air yang muncul dari langit. Cling!! Tiba-tiba idenya muncul, ya.. membuat bendungan ala insinyur tak bergelar. Aliran air yang tadi digunakan sebagai sirkuit balap itupun dirubahnya menjadi sebuah bendungan. Segera dicarinya batu-batu, tanah, dan benda apapun yang bisa untuk menahan air secara kuat dan kokoh.
Makin banyak air yang datang, diapun makin sumingrah untuk menebalkan dan mempertinggi tembok bendungannya. Biarpun beberapa kali jebol, dia tidak boan dan patah arang untuk kembali menambal tanah yang bergunduk itu. Hujan yang mekin deras membuat air yang datangpun semain banyak, dan akhirnya bendungan buatannya itu terus menerus dibobol air. Bocah itu kewalahan mengatasinya, hingga ia pun berpikir kembali. Apa yang bisa membuat volume air bendungan tetap stabil dan tidak sampai luber. Hmmm, akhirnya dia menemukan solusi. Bocah itu sadar jikalau air dalam bendungan tersebut tidak dapat sepenuhmya untuk ditampung. Akhirnya dia membuat jalur keuar bagi air yang berlebih itu. Ya.., ternyata volume air mulai stabil dan dinding bendungan pun tak terbobol lagi.
Akhirnya bocah kecil itu bisa leluasa untuk bisa "main air" di bendungan buatannya sendiri, tanpa direpotkan dengan jebolnya dinding bendungan. Ia mengambil benda-benda yang tadi dilombakannya untuk kemudian dimainkannya dalam bendungan. Hemm... hayalannya saat itu serasa dia sedang memainkan kapal-kapal dan bendungan sebagai lautnya. Ia asik dengan dunia yang dibuatnya sendiri, tanpa peduli dengan teman-temannya yang lain yang sedang asik berlarian di lapang sana. Mungkin dia muak dengan kemunafikan teman-temannya yang selalu yang selalu memanfaatkan dan mempermainkannya. Kadang ketika dia bosan dengan dunianya sendiri dia pun berpikir, "apa aku ikut main saja dengan teman-temanku yang lain?" Ah..pikirannya kemudian menjawab "Tidak usah! lebih baik kau mencari kesenangan lain, dari pada bergabung dengan segerombolan munafik yang tak berguna itu."
Tetes "air langit" pun habis tak tersisa, gelora riak air dalam bendungan kini mulai menjadi tenang. Agar airnya tetap banyak, dia pun menutup jalur air keluar yang dibuatnya tadi. Lalau ia kembali memainkan barang-barang itu hinnga gaung adzan magrib terdengar. Tapi tetap ia tak menghiraukan suara itu. Hingga akhirnya suara Ibunda tercinta terdengar menyahut dari dalam rumah, memintanya untuk segera berhenti bermain air. Ia tak menolak permintaan Ibunda, dan ia pun masuk dengan badan yang setengah kering.
mandi...
makan...
lalu pergi ke peraduan...

*ceritaku tantang hujan.
(Fahmi Syarifuddin)

0 komentar:

Posting Komentar